TENTANG KAMI >

Yayasan Makassar Skalia (YMS) adalah lembaga yang mempunyai visi menwujudkan kemandirian masyarakat berdasarkan potensi lokal guna menwujudkan Keberlanjutan, Kesejahteraan dan Keadilan Sosial

YMS mempunyai misi antara lain:

  • Membangun kerjasama antar individu dan lembaga dalam pengembangan program berbasis budaya dan lingkungan

  • Menguatkan kemandirian sosial, ekonomi dan budaya masyarakat 

  • Mendukung terciptanya masyarakat yang humanis, kreatif dan kritis akan potensi kemandirian lokal.

‚Äč

CONTACT >

Sekretariat:

Jl kakatua Makassar Sulawesi Selatan Indonesia

T: +628114138109

E: infomakassarskalia@gmail.com

www.yayasanmakassarskalia.org

© 2018 by YMS IT supported by paraqita Inc.

PINISI UNTUK MAKASSAR

      Indonesia sebagai Kepulauan Antara (Nusantara) merupakan negara kepulauan (archipelago state) terbesar di dunia dengan kepemilikan 17.508 pulau, dimana nilai-nilai sosial budaya masyarakat dan kearifan lokal perlu terus dipelihara dan dikembangkan bagi pengembangan tatanan sosial kemasyarakatan secara umum. 

    Pengembangan itu diupayakan melalui reinterpretasi, reorganisasi, dan reaktualisasi secara berkesinambungan agar mampu berkompetisi terhadap dinamika perkembangan global (spirit zaman), untuk dapat menghasilkan nilai-nilai yang rasional dengan tetap memiliki spirit kearifan lokal.

    Sejarah Makassar tidak dapat dipisahkan dari sejarah perdagangan serta kemaritiman kepulauan Indonesia pada khususnya dan Asia Tenggara pada umumnya, dimana para pelaut Makassar telah mengelilingi wilayah perairan Indonesia hingga ke wilayah utara Australia. Kebebasan di laut-Mare Liberium sebagai prinsip yang dianut oleh penguasa di Tahun 1667 menjadikan Makassar maju pesat, dan menjadikan  abad ke-18 hingga abad ke-19 merupakan masa kejayaan Pelaut Makassar dalam hal perdagangan dan kemaritiman. 

    Pada Perjalanannya,  semangat dan entitas orang-orang Sulawesi Selatan (Sulsel), khususnya Bugis-Makassar sebagai Pelaut Ulung, telah kehilangan hikmah dan makna semangat kebahariannya, demikian halnya kebaharian dalam fungsi sosial dan budaya. Kejayaan bahari yang diwariskan founding father telah disiratkan dengan semangat maritime, namun pada perkembangannya para pewaris justru menancapkan strategi kontinen dalam perkembangan bangsa ini. Akibatnya, kejayaan nusantara dalam kemaritiman tergerus, lebih jauh pengetahuan sebagai bagian budaya adiluhung kebaharian bangsa memudar seiring dengan hilangnya fungsinya. Hukum laut amangappa, ilmu layar dan navigasi, kabanggaan dalam cita cita menjadi penguasa laut berganti, semuanya kemudian meredup seiring dengan terputusnya fungsi perahu perahu rakyat seperti pinisi merangkai nusantara. 

Dalam situasi ini, sudah saatnya secara sadar dan “Abbulo Sibatang” para pihak dan pemangku kepentingan, baik itu institusi pemerintah, daerah, swasta, lembaga swadaya masyarakat, media, membangun lingkar sosial guna kembali menggali kebudayaan serta mengembalikan nilai-nilai tradisional yang luhur dalam tatanan sosial kemasyarakatan.

    Untuk itu sebuah usaha diinisiasi, sebuah GERAKAN SOSIAL yang disebut program Revitalisasi Budaya Bahari Indonesia. Gerakan Sosial ini bertujuan menjadikan Pinisi sebagai modal sosial pembangunan maritim untuk memperkokoh budaya bahari nusantara yang menguatkan kembali Indonesia sebagai poros maritim dunia.

    Adalah awal, sebuah komunitas yang dikenal dengan MAKASSAR SKALIA terdiri dari perkumpulan dari perwakilan komunitas penggiat aktivitas sosial budaya di kota Makassar, beberapa di antaranya adalah komunitas cinta laut kota Makassar, komunitas pecinta batu akik, komunitas motor antik, penggiat fotografi kota Makassar, dan komunitas desain grafis dan multimedia kota Makassar, serta komunitas even organizer.. Semua ini kemudian disatukan oleh keresahan akan hilangnya identitas budaya nusantara berikut identitas budaya orang orang yang dikenal sebagai pengarung lautan di masa lampau. Berbekal keresahan itu dibentuklah Makassar Skalia sebagai “Pinisi” untuk menjawab keresahan keresahan tersebut.

    Dari konsep Aksekre Akbulo Sibatang    (bersatu bergotong royong), dimulai dengan penggalangan dana saat peluncuran Pinisi Untuk Makassar tanggal 29 Mei 2014, diinisiasi oleh Dany Pomanto dan dimulailah penggalangan dana swadaya bersama. Gayung bersambut, adalah Anton Setiadji yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian  Sulawesi Selatan dan Barat pada tahun 2015, memikirkan suatu pendekatan budaya dalam strategi pembinaan masyarakat, selain itu beliau sangat konsen terhadap kohesi sosial yang dibangun atas dasar budaya lokal. Beliau kemudian mengerahkan daya dan upaya termasuk ikut mempengaruhi teman sejawatnya di antaranya bapak Rudito, yang menjabat Komandan Lantamal VI di Makassar. Semangat akan sebuah keyakinan bahwa budaya merupakan salah satu yang harus ditempatkan dalam proses proses membangun jiwa bangsa Indonesia kemudian bergulir dari pertemuan ke pertemuan. Sinerji Yayasan Makassar Skalia dan seluruh Komunitas komunitas, budayawan, seniman serta pemerhati budaya bahari dengan pihak kepolisian Sulselbar serta pemerintah kota kemudian dimulai.

Dibentuklah tim pelaksana pembangunan Perahu Pinisi. Pergulatannya tidaklah semudah membalik telapak tangan, sebagai sebuah gerakan sosial berbagai keinginan dan harapan yang berujung pada hadir-nyatanya Perahu Pinisi sebagai Simbol Budaya serta menjadikan kehadiran symbol ini dengan dampak terciptanya kohesi budaya untuk pembangunan sosial kemasyarakatan. Dengan usaha dan keinginan yang kuat serta dukungan berbagai pihak dalam berbagai bentuk apapun akhirnya membuahkan hasil. Tim akhirnya dalam rangkaian inisiasi awal menemui para ahli perahu atau yang lebih dikenal dengan nama panrita lopi. Setelah melakukan wawancara serta diskusi diskusi panjang akhirnya bertemulah dengan seorang anak muda yang juga mempunyai semangat yang sama dan memahami perjuangan tim ini. Adalah H. Ariawan, 37 tahun, seorang pembuat kapal dan mungkin panrita lopi termuda yang ikut terpanggil menjadi pemicu mempercepat proses pembuatan Perahu Tiang Dua Pinisi ini.

Dari berbagai diskusi yang mengurai berbagai dinamika proses inisiasi pembuatan pinisi ini lahirlah nama Pusaka Indonesia yang menjadi nama perahu pinisi yang awalnya menjadi gerakan budaya Pinisi Untuk Makassar, PUSAKA INDONESIA, PINISI UNTUK MAKASSAR.

Tanggal 8 Maret 2015, dimulailah pemotongan lunas, sebuah upacara ritual, Annatarak adalah salah satu rangkaian awal dari proses pembuatan pinisi yang mengandung unsur ritual. Annatarak diterjemahkan sebagai kegiatan memotong, meratakan ujung lunas, Kalibiseang. Pelaksanaan upacara ini dilaksanakan berdasarkan dari penentuan hari baik berdasarkan penanggalan leluhur. Upacara ini menghadirkan ekspresi ekspresi budaya. Ritual dimulai dengan upacara bersih tanah yang biasa disebut dengan Songka Bala (massapu wanua) yang bermakna kebersihan tempat dan lokasi, Tanah dan Air, serta kebersihan hati dari setiap insan yang terlibat dalam rangkaian upacara ini. Ritual ini akan dilaksanakan oleh Komunitas Bissu yang terkenal sebagai penjaga tradisi Lagaligo, cerita sumber asal usul tradisi perahu Bugis Makassar.

Selanjutnya ekspresi budaya Tarian Salonreng akan dibawakan oleh komunitas seniman dibawah pimpinan Angrong Guru Serang Dako. Tari Salonreng membawa makna sebagai Pemanggil Semangat. Tujuan dari ini adalah mengumpulkan semangat orang orang untuk menyatukan jiwa agar tujuan tercapai, dalam hal ini refleksi ungkapan, sekali kita berniat membangun perahu tidak ada kata mundur sebelum perahu berlayar, sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai. Setelah itu Doa dan Barzanji yang dibawakan oleh Imam dan Komunitas Pulau Lae Lae. 

Sebagai ritual inti adalah pemotongan lunas atau yang dikenal dengan nama Annattarak Kalebiseang. Pemotongan lunas adalah rangkaian awal dari proses pembuatan pinisi yang mengandung unsur ritual. Annatarak diterjemahkan sebagai kegiatan memotong, meratakan ujung lunas, Kalibiseang. Ujung lunas depan dan belakang dipotong dengan menggunakan gergaji yang pelaksanaannya tidak boleh terputus. Hal ini menyimbolkan pengerjaan pinisi tidak boleh berhenti sampai dengan siap dilayarkan. Pelaksanaan upacara ini dilaksanakan berdasarkan dari penentuan hari baik berdasarkan penanggalan leluhur. Sebelum upacara dimulai. kelengkapan upacara itu antara lain kain putih satu setengah meter, seekor ayam jantan, dua sisir pisang panjang dan dupa. setelah kelengkapan siap pemilik perahu jongkok di ujung kiri kalebiseang yang berhadapan dengan Punggawa. Dengan upacara pemotongan lunas maka dimulailah pengerjaan perahu pinisi. 

Dalam sambutannya, Anton Setiadji selaku Kapolda Sulselbar menegaskan bahwa sebagai bagian dari jati diri bangsa Indonesia Pinisi adalah symbol yang kuat yang harus diteguhkan dan dihadirkan secara nyata di tengah tengah kehidupan bangsa, Pinisi bukan lagi milik orang orang Sulawesi tetapi menjadi simbol nasional yang harus diwariskan dan sebentar lagi akan menjadi warisan dunia dan kita semua, sebagai bangsa yang bangga akan warisan kejayaan maritim, harus melakukan upaya penuh untuk mendukung ide pembuatan pinisi ini. Hal ini disambut dengan senada oleh Dany Pomanto, Walikota Makassar yang dalam sambutannya memberikan apresiasi sebesar besarnya terhadap komunitas komunitas yang peduli terhadap warisan kejayaan budaya. Terkhusus apresiasi terhadap Bapak Anton Setiadji yang secara personil dan selaku Kapolda telah melakukan langkah langkah nyata dalam mendukung lahirnya Pinisi Pusaka Indonesia ini di Makassar. Lebih jauh, Dany menegaskan bahwa sebagai orang Makassar merasa malu bahwa kepedulian orang orang seperti bapak Anton Setiadji melebihi dari dirinya khususnya dukungannya dalam pembuatan perahu Pusaka Indonesia, Pinisi untuk Makassar.

    Sebagai rangkaian dari gerakan revitalisasi budaya, kehadiran ekspresi budaya dalam bentuk Perahu tentulah diharapkan bukan berhenti sampai adanya perahu pinisi yang lahir kembali, tetapi lebih jauh nilai nilai kebaharian yang mulai tercabut dari kehidupan bangsa, dapat menjadi proses meneguhkan wawasan bahari. Selain itu dipandang perlu juga melestarikan pengetahuan pengetahuan tradisional dalam pembuatan perahu dan juga pengetahuan berlayar yang sudah semakin memudar. Oleh sebab itu maka beberapa misi dari lahirnya PUSAKA INDONESIA, Pinisi untuk Makassar mempunyai sasaran dan hasil yang diharapkan adalah;

    Pertama, adanya Perahu PINISI sebagai sarana dan simbol kohesi sosial berbasis bahari Indonesia. Proses pembuatan perahu pinisi Pusaka Indonesia yang dilakukan di Makassar merupakan langkah awal memperkenalkan kepada generasi muda warga Sulawesi selatan dan Barat. Kemudian dalam rangkaian pembuatan ini juga akan diadakan kegiatan kegiatan yang secara garis besar dilaksanakan pada puncak peringatan 70 tahun Indonesia merdeka, sebuah festival kolosal yang melibatkan seluruh warga memperingati lahirnya Pusaka Indonesia.

    Kedua, dengan adanya Pinisi ini diharapkan adanya Program PINISI EDUKASI budaya bahari Indonesia dengan hasil masyarakat terutama generasi muda mempunyai kepedulian terhadap pengembangan budaya bahari nusantara dan juga pelestarian lingkungan. Salah satu pokok inti dari program edukasi ini adalah menanamkan kembali pengetahuan kemaritiman dan semangat cinta bahari kepada generasi muda dengan memusatkan kegiatan pada pendidikan ekomaritim, lingkungan laut dan pesisir.

    Ketiga, adanya Program PINISI EKSPEDISI budaya bahari nusantara dengan hasil dikenalnya potensi budaya bahari nusantara di dalam dan luar negeri. Dengan program ekspedisi ini maka perahu pinisi akan mengembang misi mewakili Sulawesi Selatan dan Barat dan juga Indonesia dalam ajang kegiatan berlayar di nasional dan Internasional.

 

Terakhir, dengan adanya Program PINISI BAKTI NEGERI berbasis pengelolaan potensi kreatif budaya lokal dengan hasil berkembangnya penghidupan masyarakat  yang akan mengangkat kualitas hidup masyarakat pesisir. Program Pinisi Bakti negeri ini akan secara khusus mengembangkan program program pembangunan masyarakat di pesisir dan pulau.

Program pendidikan ekomaritim yang akan berjalan selama tiga tahun telah menggandeng Toyota Astra Motor untuk mendukung seluruh aktivitas untuk Tujuan Edukasi, program ini akan melibatkan anak anak pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum. Program ini sebagian besar akan memberikan edukasi ekomaritim seperti peningkatan pemahaman dan kepedualian terhadap lingkungan laut dan pesisir, rehabilitasi terumbu karang melalui pelayaran pinisi di lokasi kepulauan spermonde. Sebagai titik utama dari kegiatan ini pos program ditempatkan di Pulau Samalona dengan melibatkan komunitas pulau di sekitar pulau pulau Kota Makassar.

Untuk itu semua kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan berkonstribusi dalam pembuatan pinisi ini. 

YMS logo.png